liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Miris, Keluarga di Surabaya Ini Bertahun-Tahun Rumahnya Tak Teraliri Listrik 

Miris, Keluarga di Surabaya Ini Bertahun-Tahun Rumahnya Tak Teraliri Listrik 

SURABAYA, iNews.id – Sebuah keluarga yang tinggal di Jalan Juwingan 124, Kelurahan Kertajaya, Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, hidup dengan pasokan listrik yang terbatas. Pasalnya, pemilik lahan tidak mengizinkan Kusaeri (57) memasang listrik sendiri.

Mukim Gubeng Kota Surabaya, Eko Kurniawan Purnomo mengatakan, pihaknya sudah melakukan negosiasi dengan pemilik lahan. Hal ini karena tanah atau tanah yang didiami keluarga Kusaeri berstatus kontrak, yang kemudian membangun rumah sendiri.

“Jadi Pak Kusaeri menyewa tanah dari orang lain, membangun rumahnya sendiri. Dia tinggal di sana bersama istri, anak, dan dua cucunya tanpa listrik,” kata Eko, Senin (12/12/2022).

Eko mengungkapkan, sebelumnya keluarga Kusaeri telah menerima aliran listrik dari tetangganya. Bahkan pada tahun 2015-2020, tiga tetangganya sudah menyuplai listrik ke rumah Kusaeri. Namun karena listrik tetangga sering padam karena beban kurang kuat, mereka semua protes.

“Rata-rata semua (tetangga) membantu khusus untuk lampu di rumah (gratis). Karena pemakaian berlebihan, tarif yang membantu membengkak dan akhirnya diputus,” ujarnya.

Selain tidak bisa memasang listrik sendiri, Eko juga mengatakan, intervensi program Rutilahu yang akan dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk keluarga Kusaeri juga tidak bisa terealisasi. Pasalnya, pemilik tanah tempat tinggal keluarga Kusaeri juga tidak diperbolehkan.

“Rumah Kusaeri ini pernah dihibahkan untuk Program Rutilahu namun dibatasi karena tidak ada sertifikat kepemilikan rumah. Hal ini karena tanah tersebut bukan milik sendiri tetapi disewakan,” ujarnya.

Sehari-hari, kata Eko, Kusaeri dan istrinya bekerja sebagai tukang tambal ban. Sedangkan sang anak bekerja sebagai tukang ojek online dan salon. Sedangkan tanah yang ditempati keluarga Kusaeri berstatus sewa Rp 1 juta per tahun dan bangunannya dibangun sendiri.

“Dia tinggal di sana selama kurang lebih 20 tahun, tapi tanah dan sewa tanahnya dibangun sendiri. Untuk saat ini, Pak RW dan tetangga membantu pemasangan lampu jalan (di luar rumah) sejak 2014,” ujarnya.

Editor: Ihya Ulumuddin

Bagikan Artikel: